Sikap Kita terhadap Pemimpin

Posted: 13 Mei 2011 in Agama, campuran, Motivasi Diri, Pribadi

Tidak mencela, membenci dan menyebarkan aib pemimpin
Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“لاَ تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ وَلاَ تَغِشُّوهُمْ وَلاَ تُبْغِضُوْهُمْ وَاتَّقُوا اللهَ وَاصْبِرُوا فَإِنَّ الأَمْرَ قَرِيبٌ ” (رواه البيهقي)

“Janganlah kalian mencela pemimpin kalian, jangan pula berbuat curang dan membenci mereka. Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, karena sesungguhnya urusan itu dekat.”

Tidak memberontak pemimpin bila mereka tidak menerima nasihat. Kecuali bila tampak padanya kekufuran yang nyata dan umat Islam mempunyai kekuatan serta tidak menimbulkan bencana yang lebih besar.

Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“وَمَنْ لَهُ وَالٍ فَيَرَاهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ الله فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ الله وَلاَ يَنْزَعُ يَدًا مِنْ طَاعَتِهِ” (رواه ابن حبان)

“Barang siapa mempunyai pemimpin, lalu ia melihatnya melakukan maksiat kepada Allah, maka hendaklah ia membenci kemaksiatannya, akan tetapi jangan melepaskan ketaatan.”

Memberi nasihat kepada pemimpin adalah hak setiap Muslim, yang harus dilakukan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ ». (متفق عليه)

“Agama itu adalah nasihat”, kami (para sahabat) bertanya: “Untuk siapa?” untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan umat muslim seluruhnya.”

“ثَلَاثُ خِصَالٍ لَا يَغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ أَبَدًا إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ وُلَاةِ الْأَمْرِ وَلُزُومُ الْجَمَاعَةِ “(رواه أحمد )

“Tiga sifat yang tidak menjadikan iri hati seorang muslim selamanya, ikhlas beramal untuk Allah, menasihat para pemimpin dan setia kepada jama’ah.”

“مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ” (رواه أحمد)

“Barang siapa ingin menasihati sultan dalam suatu urusan, maka janganlah menampakkannya secara terang-terangan, tetapi hendaklah ia mengambil tangannya lalu berdua dengannya. Jika ia menerima nasihatnya, maka itu sebuah kebaikan. Jika tidak, maka telah melaksanakan kewajibannya.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s